Catatankita

Mencari Ujian (Kisah Kasih Nyata: Part 1)

Menuju Sumedang, 31 Juli

Alhamdulillaah bi ni’matihi tatimusshalihat. Haru biru hari ini. Adalah sebuah anugerah yg tiada tara, memiliki kedua orangtua yg kasih sayang nya pun tak terhingga. Seberat apapun kecewa yg kita torehkan pada keduanya. Tak mampu surutkan cucuran cinta yg dititip dari Yang Maha Kuasa.

.
Pengabdian masyarakat. Apalah diri ini, yg mengabdi pada orangtua pun jauh dari kata berhasil. Namun hidup adalah nuansa, seperti di dalam lirik lagi Thufail Al Ghifari. Nuansa pada apapun tugas yg kita emban. Mencari celah kemanfaatan diri. Mendidik diri agar mampu mengamalkan ilmu yg didapat di bangku kuliah, bekerja sepenuh hati, di sebenar-benar tempat yang nyata akan kita hadapi setelah kelulusan. Inilah Kuliah Kerja Nyata. (Itu mah sih cocokologi ketang :D).

.

Kampusku memiliki tiga kewajiban yaitu melaksanakan pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Bentuk pengabdian dilakukan salah satunya dengan KKN berbasis Pemberdayaan Masyarakat agar mahasiswa sebagai agen perubahan (aamiin) mampu bersama-sama masyarakat menyusun agenda perubahan yang dampaknya dapat dinikmati mereka guna kelangsungan kehidupan di masa yang akan datang. Tahun ini kami mahasiswa angkatan 2016 diutus untuk membantu kesejahteraan sekelompok masyarakat di muka bumi. Jadi kami bukan Sun Go Kong sang kera sakti yg bisa bertindak sesuka hati, liar, nakal, brutal dan membuat semua orang menjadi gentar (melagu 🙂 ). Skip.

.
Aku beranjak dari pintu rumah diiringi dg doa ibu. Mamah berpesan pun dg doa, pengetuk pintu langit yg selalu dpt membuat malaikat bersetia membukanya. Diiringi mencium kedua pipi, hingga membuat hati semakin yakin akan kesanggupan amanah ini. Al Kahfi 1-10, pesannya. Dan bapak, lelaki satusatunya yg tdk ada di satu pun lakilaki lain yg aku kenal. Beliau pahlawan tanpa jeda. Pecinta yg merealisasikan kasihnya dengan bukti bukan janji. Yang pundaknya satu, bebannya hingga tak menentu namun masih tetap mau menemani langkah putra putrinya selalu.
.
Kemudian dipertemukan dengan kelompok manusia-manusia baik. Sopir bis yg ramah. Masyarakat yg wellcome. Rumah yg nyaman. Namun justru inilah yg membuatku bertanya, apa tantangan dan ujian sebenernya disini?

.
Rabbisyrahli shadrii wa yassirliy amri, menggumam dalam hati, bersiap diri pd apapun yg akan terjadi. Sebab inilah hidup, kita memang tak bisa membuat semuanya baik-baik melulu, tapi kita bisa mengendalikan pikiran bahwa segala sesuatu terjadi untuk kebaikan kita. Sebagaimana kata Buya Hamka, “Jika hati kita senantiasa berniat baik, Allah akan pertemukan kita dengan hal yang baik, orang-orang baik, tempat yang baik, atau setidaknya peluang dan kesempatan untuk bisa berbuat baik. Maka, isi hati kita dengan prasangka baik, harapan baik, keinginan baik, dan tekad menjadi lebih baik.” Dan semoga dengan KKN ini aku bisa menjadi istri sholeha (kela kela), maksudnya mahasiswi shaliha, rajin menabung dan tidak sombong serta bisa masak.
.
Sebuah pesan balasan muncul dari sang guru, teringatkan kembali pada surat Al-Kahfi ayat 10. Bekal berharga hingga usai.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s